Ketika saya masih kelas 11 di bangku sekolah menegah akhir,sekolah saya kedatangan seorang guru dari belanda yang merupakan teman dari guru bahasa inggris saya.Guru tersebut namanya Mr.Gerard,ia merupakan pensiunan guru di belanda,dan di masa tuanya ia memutuskan untuk keliling dunia.Ia sudah beberapakali mengunjungi sekolah saya,pada saat ia mampir ke kelas saya,reaksi saya pertama kali tentu kaget tiba-tiba ada orang asing datang ke kelas.Ia menyapa ke hadapan kelas,semua orang membalas sapaannya.Pada saat itu saya kebetulan di jam pelajaran bahasa inggris,dan guru saya menyerahkan waktunya ke Mr.Gerard tersebut untuk mengajar atau berbagi pengalamannya.
Saat ia menjelaskan,sangat berbeda aksen nya dengan guru nya,jadi saya agak kesulitan untuk menstranslate apa yang ia ucapkan,namun kebetulan saat ia bertanya beberapa pertanyaan kepada saya,awalnya saya gugup,tetapi saya bisa menjawab pertanyaan darinya.Ia mencoba membawakan pembicaraan kepada seisi kelas dengan lambat agar mudah dimengerti.
Ketika istirahat saya melihat ia berjalan keliling sekolah,dan menghampiri saya dan teman-teman,dan ia megungkapkan senang terhadap siswa-siswa disekolah ini karena sopan dan ramah,berbeda dengan negri asalnya.
Dari pengalaman tersebut,budaya Mr.Gerard sangatlah berbeda dengan kita,mulai dari berbicara,bersikap,dan lainnya.Namun dari perbedaan tersebut kita dapat belajar dari budaya orang lain dan jika ada yang rasanya positif kita boleh menirunya,begitu pula Mr.gerard tadi,ia juga sudah banyak berkeliling bebrbgai negara,tentu ia sudah mempelajari berbagai budaya dari negara-negra tersebut.
Dan hal tersebut saya berhasil menerapkan sikap terhadap KAB menurut De Vito dalam Alo (2001:175) juga menyatakan beberapa sikap yang hendaknya dimiliki oleh seseorang agar mampu menciptakan komunikasi antar budaya yang efektif diantaranya:
1. Sikap keterbukaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memberikan informasi pribadi kita pada orang lain agar orang tersebut mau melakukan komunikasi dengan kita. Informasi yang dimaksudkan disini dapat berupa nama dan daerah asal.
2. Empati, dalam hal ini komunikator dituntut untuk mampu menerima orang lain dan menerima apa adanya keadaan dan situasi orang tersebut.
3. Perasaan positif, dalam hal ini komunikator dan komunikan hendaknya membangun konsep pemikiran bawasannya keadaan mereka pada saatberkomunikasi berada dalam posisi yang saling menguntungkan.
4. Memberi dukungan, saling memahami keadaan dan melengkapi semua keterbatasan serta tidak merasa tertekan satu sama lainnya saat berkomunikasi
5. Memelihara keseimbangan, memiliki kesempatan yang sama dalam berfikir, bertindak, dalam melakukan sesuatu hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar